The Girl That Gone With the Wind II

The Girl That Gone With the Wind II

Untitled2

[part two]
Starring:
Ryu Jiyoung (OC’s) | Ryu Sujeong (Lovelyz’s) | etc
Disclaimer: Cerita hanya fiksi, maaf jika ada kesamaan inti cerita , yang jelas ini murni milik saya, cast hanya milik Tuhan, orang tua mereka dan agensi.
Warning : Typo baik disengaja atau tidak bertebaran di berbagai tempat.
| AU, Romance, Hurt | PG-15
©jjyoung.babyxo

“memories never fades easily.”

Bella POV-
Suvarnabhumi Airport
20 : 46 PM

Aku meletakkan kedua koper milikku sebentar bermaksud untuk membeli softdrink dari sebuah mesin otomatis yang berada tak jauh dariku. Aku memasukkan koin dan berkutat di sana beberapa saat sebelum akhirnya softdrink yang kuinginkan keluar. Airport malam ini cukup ramai. Ah iya, aku lupa kalau sekarang adalah malam minggu. Rupanya cuaca dingin tak mencegah beberapa orang untuk berpergian.

Setelah membeli kebutuhan ini dan itu, aku membuka kaleng softdrink lalu menenggak setengah isinya. Troli koper salah satu penumpang, –yang tak jauh dariku yang penuh dengan barang melaju tanpa pengemudi hingga menabrak kusampai-sampai aku memuntahkan soda yang bahkan belum menyentuh lambungku itu. God! Kakiku sepertinya tergilas roda troli. Si pemilik troli rupanya adalah seorang laki-laki. Tidak terlalu jelas kulihat wajahnya karena tertutup jaket yang tebal yang pasti rambutnya berwarna oranye terang , sedikit terlihat dari beanienya yang terbuka sedikit. Aku menepuk-nepuk dadaku yang sakit dan merapikan jaket tebalku yang terkena muntahan soda ku, ofc kau tahu rasanya soda naik ke atas kepalamu lewat hidung? Duh.

“Ya!” Baru mau kumarahi namja itu sialannya namja itu malah pergi! Kurang ajar, masih saja ada orang tidak sopan jaman sekarang, bukannya minta maaf dia malah pergi.

“Pemberangkatan Beaverton menuju Seoul akan berangkat 10 menit lagi, penumpang dipersilahkan masuk dan memeriksa barang bawaannya kembali.”

Suara dari speaker airport sudah terdengar, aish belum juga aku minum , sial. Kupaksa melangkahkan kakiku untuk buru-buru masuk ke pesawat kalau tidak sepatu menginjak sesuatu yang sedikit keras dan sedikit begerigi, owh aku menginjak kalung. Punya pria tadi?

Oh, kusimpan saja mungkin bertemu namja tadi nanti di pesawat, sekaligus aku ingin menumpahkan muntahanku tadi sepertinya tepat di mukanya. Aku pun mengambilnya kalung biasa tapi ada sebuah cincin yang menggantung melingkari kalung itu, cincin mainan.
Cincin?
Cincin mainan?!
Tanganku yang baru saja ingin memasukkan benda kecil itu kedalam jaketku, kalau tidak aku tersadar akan warna itu, biru muda!
Apa mungkin? Tidak, cincin seperti ini di dunia tidak cuman ada satu bukan? Tapi ada berlian mainannya juga tepat di tengahnya, tidak mungkin. Kau gila Bella.
Sudahlah, aku menarik kedua koperku lalu berjalan ke arah pesawat ku.

Author POV –
Di bawah pohon maple yang daun nya mulai berguguran di awal musim gugur itu, 2 bocah sedang asik menggambar.
“apa cita-citamu young-ah?” tanya anak lelaki yang berumur sekitar 10 tahun itu.
“menjadi penyanyi terkenal, dan tinggal di rumah yang mempunyai 10 lantai di seoul.” jawab perempuan berumur 7 tahun yang ada di hadapannya.
“berarti kau akan meninggalkan ku?” tanya anak pria itu kembali.
“tidak begitu.. aku..” tampaknya bocah perempuan itu kebingungan menanggapi pertanyaan teman kecilnya itu.
“saat kau sudah terkenal, tunggulah aku. Aku akan berusaha menjadi penyanyi yang lebih hebat dan membelikanmu rumah lalu kita akan menikah..” celoteh sang bocah lelaki.
“menikah?” wanita di hadapannya hanya melongo menatapnya. Dia bahkan tidak paham betul akan maksud dari ‘menikah’.
“ne.. seperti buku yang di bacakan eomma setiap malam” balas temannya.
“memang apa maksudnya, oppa?” tanya wanita kecil yang bernama ryu jiyoung itu.
“aku adalah pangeran kim dan kau adalah putri ryu! Kita akan tinggal bersama di sebuah istana dan hidup bahagia selamanya..”

“Selamat datang di Gimpo Airport, semoga hari anda menyenangkan! Silahkan periksa barang bawaan anda kembali sebelum meninggalkan pesawat.”
“GOD!” suara konduktor pesawat mengagetkan seorang Jiyoung–well, dia sudah berada di Korea , dari tidur indahnya. Bisa dibayangkan orang yang berada di sebelahnya terlihat bingung dengannya, karena Jiyoung terbangun dan berteriak dengan keadaan, –oh well , Rambut berantakan , mata yang belum sepenuhnya terbuka , mulut cengo oh dan, sedikit air liur? Ewh.
Lupakan, untuk sesaat dia mulai membenarkan dirinya dan bersiap-siap turun dari pesawat. Untuk sekarang lupakan kejadian itu, dia dengan bebasnya menghirup udara yang sudah 10 tahun ini dia tidak hirup.
“I’m back.”
Here we go, i step again.
Don’t you feel it’s so dangerous Bella?

“Ryu Jiyoung.”
Jiyoung kini berada di depan passing board airport, sudah beberapa kali dia berbolak balik menengok ke arah pintu tunggu namun masih saja belum datang. Jiyoung berdecak, mengecek jam berwarna biru mudanya nampak tak sabar. Bukankah ibunya sudah bilang kalau akan menjemputnya ? Apa dia lupa?

Semua orang tahu golongan darah A sangat tidak suka dengan ke-tidak-tepatan waktu, walaupun dalam kasus ini ibunya yang telat–yah sudahlah. Dia mengambil kamera DSLR miliknya yang sedari tadi menggantung di lehernya, mencari-cari objek bagus yang mungkin dia akan posting di akun tumblr miliknya pulang nanti. Ia beberapa kali menjepretkan kameranya diobjek yang menurutnya bagus dan indah. Ia memotret beberapa anak kecil yang sedang berjalan-jalan. Beberapa anak kecil melambai dan tertawa kepadanya , sepertinya turis. Jiyoung pun membalas lambaian mereka sambil tersenyum.

Jiyoung menyipitkan matanya, hendak mengambil sebuah foto yang bagus. Ketika ia sedang membidik dengan kameranya, dia melihat sedikit polesan oranye pada namja yang berdiri di depan kameranya, namja yang ia temui tadi menganggetkan Jiyoung lewat kameranya. Dan tanpa sadar, Jiyoung menjepretkan kameranya, membuat sebuah foto.
Jiyoung melepaskan bidikannya dan mengerjap-kerjapkan matanya berkali-kali. Ia kaget ketika ia tengah membidik, seorang namja tiba-tiba saja nampak didepan kameranya. Tak lama kemudian, Jiyoung akhirnya pun sadar kembali.
Namja itupun terkekeh melihat reaksi Jiyoung yang lucu itu, “Sepertinya aku belum minta maaf padamu, aku minta maaf ya, aku V,”

Jiyoung yang sempat merasa gugup dan beberapa kali ia merasa darahnya mengalir cepat dan hatinya berdegup kencang, “Be-bella,”
Dilihatnya namja itu sedang mengamati kameranya dengan serius sambil tersenyum di wajahnya. Dia yakin namja itu tahu kalau tadi dia memfotonya tadi. Dia menarik kameranya malu, apa seorang Jiyoung tega kalau tertangkap menjadi seorang stalker?
“Kau?” dia masih menggantungkan pertanyaannya sambil menengok ke arah kamera milik Jiyoung.
“Ti-tidak! Aku bukan aku percaya! Tidak, aku tidak sengaja!”ucapnya tiba-tiba memelas. ‘Hey padahal aku belum bertanya apapun’ pikir namja itu.
“Kau yang memfotoku tadi?” tanya namja itu lagi, dilihatnya ia menggigit bibirnya sekilas.
“Ani, itu bukan aku percayalah” elaknya lagi.
“Aish kalau bukan kau jadi itu siapa?” kesalnya frustasi karena yeoja di hadapannya ini mengelak pertanyaan yang ia tujukan padanya.
“Molla V-ssi, ah itu ibuku sudah datang dah!” V langsung kebingungan melihat Bella yang kini tengah berlari menjauh darinya sambil buru-buru membawa koper besarnya.
“Dasar yeoja aneh, aku hanya tanya dia malah kabur.”

Another side–
“Ibu kenapa pagi-pagi sekali? Aku tidak biasa bangun jam segini.” keluh Sujeong yang masih belum benar-benar bangun walau dia sudah bangun
“Sudah jangan banyak tanya ibu belum mempersiapkan kamar, cepat saja habiskan sarapanmu!”
“Sarapan? Phm? Jam setengah lima subuh?”Sujeong memakan roti isi miliknya di meja makan , tidak lama kemudian ibunya menuruni anak tangga dengan pakaian rapih, Sujeong hanya bisa menjatuhkan rotinya sangking dia bingung dengan ibunya .
“Kita sebenarnya mau kemana? Ibu rapi sekali . Nanti aku sekolah terlalu pagi jadinya?”
“Kau ini,kita akan menjemput seseorang di airport setelah menjemputnya di airport kau langsung sekolah.”
“Dengan begitu sama saja ibu membiarkan anak ibu berdiam diri di sekolah selama kurang lebih 1 jam. Oh, kudengar Taehyung oppa juga pulang hari ini, setelah 2 tahun tidak bertemu dengannya ugh, aku benar-benar rindu pada oppa tampan itu.”
Ibunya menjitak kepala Sujeong kecil, “Aw, sakit bu.” Dia mengelus kepalanya ringan sambil merintis.
“Kita akan menjemput orang yang bahkan 10 tahun tidak bertemu denganmu, kau masih saja memikirkan Taehyung gila itu.”
“Lagipula Taehyung tidak gila Bu, Memang kita mau menjemput siapa sebenarnya?”
“Adikmu bodoh.”
“Apa?”
“Adikmu. Kau sudah lupa kau punya adik?”
Ryu Jiyoung.
Dia adalah Ryu Jiyoung. Tiba-tiba saja Sujeong merasakan darahnya berdesir dan mengalir cepat. Dia meminum airnya dengan buru-buru setelah tersedak dengan roti paginya. Hari buruk sepertinya akan dimulai. Sujeong tidak ingat, sejak kapan dia punya adik, oh ya dia ingat 10 tahun yang lalu.
“Maksud ibu, Jiyoung?”
“Tentu saja, memangnya siapa lagi? Cepatlah kita akan telat.” Ibunya mengambil 1 lembar roti sambil mengampitnya pada mulutnya dan langsung berjalan meninggalkan ruang makan. Sujeong masih belum bisa berpikir jernih, pikirannya masih blank . Muncul spekulasi-spekulasi di otaknya, entah kejadian dulu dan perkiraan yang akan datang.
Ibunya jarang membicarakan Jiyoung , karena dia pun sibuk dengan dirinya dan jarang bertemu ibunya, untuk sekedar menanyakan kabar juga jarang, apalagi untuk konten yang lain.

Apa yang si sialan itu lakukan setelah pergi?

Sujeong tersenyum juga. Sesuatu mengganjal di hatinya. Perasaan senang dan kecewa pun bercampur jadi satu. Ya, gadis itu menyadari bahwa mungkin masalah akan datang setelah Jiyoung datang.

Jiyoung POV –

Bodoh kau bodoh Ryu Bella , kau bodoh.

Kau malah kabur padahal belum kau kembalikan cincin ini, sialan apa yang kau gugupkan Bella! Ayo katakan tidak mungkin kau berdegup padahal namja itu saja belum kau kenal, ah sudahlah kusimpan saja, menyebalkan.
‘Drrt’ sesuatu dari kantong jeans ku bergetar –handphone.
“Yeoboseyo?”
“Jiyoung-a, kau dimana ibu sudah berkeliling airport kau sudah sampai kan?”
“Oh–iya aku sedang ke toilet bu, tunggu sebentar aku datang. Ibu dimana?”
“Ibu di depan airport, kau jangan keluar airport sekarang hujan lebat, memang gila pagi begini bisa hujan.”
“Baiklah bu.”
“Ah! Dan aku juga bawa seseorang spesial untukmu.”
“Siapa?”
“Sudah tunggu saja.”
“Geurae.”

Tut.
Aku tahu itu orang yang ibu bawa pasti kakak, bagaimana kabarnya ya?
Aku tidak yakin kakak masih ingat padaku, apa dia ingat adiknya ini, aku begitu merindukannya sampai-sampai aku menangis setiap melihat foto kami berdua, Berapa tingginya sekarang? Apa dia lebih tinggi dariku? Apa dia sakit selama aku pergi? Apa dia merindukanku? Apa dia baik-baik saja selama ini?

Aku begitu merindukannya.

Hujan baru saja mulai turun membasahi kawasan Seoul di pagi hari ini, –dalam rangka menyambut musim gugur. Bau tanah jelas menyeruak dan masuk ke dalam rongga hidung manusia-manusia yang tengah berjalan –baik yang memiliki tujuan, ataupun tidak. Bahkan rintik hujan yang deras masih terdengar dari rongga telingaku, jadi kuselipkan saja headset putih –yang tersambung dengan iPod biru ku, memutar lagu dan menunggu ibu.

“Ryu Bella! Ryu Jiyoung!”
Dilihat dari jauh olehku wajah yang selama ini aku rindukan, yang selalu ada dalam mimpiku , yang selalu kutanyakan apakah ada yang berubah dari wajah itu , –wajah ibuku, wajahnya penuh kemenangan. Wajahnya tampak sumringah saat mata kami bertukar pandang, aku benar-benar tidak dapat menahan tangisku yang sudah pecah dari tadi. Jarak kami masih jauh tapi ibu sudah tahu dimana aku.

Dia tidak berubah, senyumnya dan matanya selalu hangat ketika menyambutku, tapi dia terlihat lebih tirus apa dia melakukan diet? Apa benar dia ibuku? Dia benar-benar tidak terlihat seperti ibuku yang seharusnya berumur 49 tahun, mukanya benar-benar cerah, hanya sedikit kerutan yang terlihat.
Akhirnya berdiri sudah dia dihadapanku jarak kami mungkin hanya terpaut 4 meter, ternyata aku memang tumbuh tinggi , tingginya mungkin hanya setara dengan bibirku atau kira-kira 163 cm , dia menangis.
“I miss you , honey.” Suara berat itu mengejutkanku. Walau hanya dengan empay kata, aku hapal betul siapa pemilik suara itu. Makanya sekarang jantungku mulai berdetak tidak karuan.
“You are the most precious things that i really miss it, honey.”
“Ayo kita pulang.”

Perlahan aku menolehkan kepalaku dan langsung menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Mengingat sudah berapa tahun kami tidak bertemu? Dan kini aku sangat-sangat merindukannya. Merindukan senyumannya, merindukan suaranya, merindukan wajahnya, merindukan segalanya. “Mom…” lirihku sangat pelan, –bahkan suaraku terdengar bergetar.
Mom mengulurkan tangan kanannya di hadapanku. “Ayo kita pulang.” ucapnya lagi. Aku mengangguk lalu menyambut uluran tangannya. Bukan hanya itu, aku bahkan memberanikan diriku untuk memeluknya. Melampiaskan rasa rinduku selama ini.

Juga lewat pelukan ini, aku ingin menyampaikan curahan hatiku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s