Hati yang tertinggal

broken_heart_by_alicat2011-d3cg2wx

photo by: http://www.devanart.com

Sore itu, aku mengerjakan PR di belakang rumah sedangkan Christopher, bermain di ayunan sambil menungguku selesai.

“Masih lama?” tanya Chii.

“Sebentar lagi selesai.” Aku yang baru menyelesaikan PR, menjawab pertanyaan Chi sembari menutup buku. Christopher menghentikan ayunannya.

“Sini.”ucap Chi sambil menepuk dudukan ayunan yang tersisa. Aku mendatangi Chi dengan senyum lebar. Chi menarik nafas panjang.

“Dengar dan jawab pertanyaanku.”ucap Chi tegas. Nadanya membuatku merinding.

“Apa sekolah menyenangkan?” Aku mengangguk. “Kalau ada Chi.”

Aura Chi menjadi suram. Aku takut, batinku.

“Kalau tidak ada aku?” Aku menggeleng pelan. Chi menghela nafas dengan keras.

“Apa kau tak punya teman selain aku? Tahukah kau kalau pandangan teman-teman sekelas jadi aneh jika kita mulai mengobrol?” Chi beranjak dari duduknya.

“Mereka bahkan membullymu,.. kau harus lebih berbaur.” bentak Chris. Sayap dan auranya menggelap. Membuatku menundukkan kepala. Chris berjongkok begitu melihatku tak bergeming.

“Maaf.” ucapnya lirih. Aku menatapnya takut-takut.

 

“Oh!” Chris berdiri, lalu mengambil sesuatu dari dalam rumah. Suara berisik yang ditimbulkan Chris membuatku berdiri dari ayunan lalu sedikit mengintip ke arah pintu yang sedikir terbuka. Tiba-tiba pintu terbuka dan muncul Chris dengan kue tart kecil di tangannya.

“Maaf mengacaukan harimu, selamat ulang tahun.” Aku tertawa lalu menadahkan kedua tanganku di depan wajahnya.

“Hadiah??” Chris meletakkan kuenya di ayunan lalu menutup mataku dengan tangannya.

“Tutup matamu.” Aku menutup mataku. “Hitung sampai tiga.” sambungnya.

“Satu.. dua.. tiga..” Selesai aku menghitung, kubuka mataku. Tak ada seorang pun disana.

“Chii??” Tak ada suara yang muncul.

Aku terdiam beberapa saat. Perasaan takut mulai menyergap. Aku berlari ke seluruh rumah tapi tak juga menemukannya. Sejak saat itu, Chi menghilang dari hidupku.

***

Aimee duduk di halaman belakang rumahnya, menatap ayunan dengan wajah kosong dan mata sembab. Meski tangisnya sudah mereda, hatinya masih meratapi kepergian sahabatnya, Dennis. Dennis pindah rumah ke luar kota karena orang tuanya yang ditugaskan disana. Begitu mengetahui berita itu, Aimee menjerit. Perasaan marah, kecewa, takut dan sedih bercampur menjadi satu. Karena Dennis, tidak memberitahukan berita itu sejak awal. Ia tak ingin Aimee merasa sedih. Kini, gadis itu hanya bisa berdiam diri di halaman belakang, merasakan tiupan angin senja ditemani perasaan kesepian.

Srekk..

Terdengar suara langkah seseorang dari pohon yang berada di samping ayunan. Aimee yang merasa takut, reflek mengarahkan tangannya untuk memeluk kakinya.

“Si, siapa?!!” bentaknya terbata-bata. Tapi tak ada orang yang kunjung menampakkan diri. Mulai digerayapi perasaan waspada, Aimee melemparkan sendal yang berada di  sebelahnya ke arah pohon.

“A, aku, ta, tahu… kau disana!! Ce, cepat keluar!!” teriak Aimee.Tak lama kemudian, muncul seorang anak lelaki dari belakang pohon tersebut. Ia memakai baju terusan putih berlengan pendek, berambut hitam legam yang sedikit panjang dengan sayap burung berwarna broken white di punggungnya dan kuping berbentuk sedikit runcing. Benar-benar deskripsi sebuah malaikat. Aimee yang terpana melihat malaikat itu membiarkan mulutnya terbuka lebar.

“Maaf. Apa aku menakutimu?”ucap malaikat itu dengan wajah datar. Malaikat itu memiringkan kepalanya sedikit. Aimee menjulurkan kepalanya mendekat. Meskipun malaikat itu tidak menundukkan kepalanya, Aimee tetap tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena tertutup oleh poni yang cukup panjang. Jadi ia berjalan mendekat.

“Namamu siapa?” tanya Aimee sambil berjalan.

“Christopher.” Tepat setelah Christopher mengucapkan namanya, Aimee mengangkat poni Christopher.

“Hai Christopher, namaku Aimee. Senang bertemu denganmu. Boleh aku memanggilmu Chii?” tanya Aimee dengan senyum sumringah. Pandangan Aimee bertemu dengan mata Christopher. Irisnya berwarna merah marun. Cantik, pikir Aimee.

***

“Chi, aku sudah selesai menghitung, aku mau mulai nyari nih..” Aimee mulai mencari ke sekeliling rumah. Dapur, kamar-kamar, bahkan kamar mandi ia telusuri satu persatu. Tapi Aimee tak jua menemukan keberadaan Chi. Tiba-tiba Aimee merasa seseorang menepuk pundaknya. Begitu ia menoleh, ia melihat Chi berada tepat di depannya, dengan senyuman lebar.

“Giliranmu!” ucapnya lalu berlari ke halaman belakang diikuti Aimee. Karena tidak berhati-hati, Aimee tersandung batu.

“A!” teriaknya. Aimee memejamkan matanya. Bersiap merasakan sakit dan kotoran di wajahnya. Namun ia tak merasakan apapun, ia membuka matanya. Aimee mendapati Chi menahan kedua pundaknya. Chi menegakkan tubuh Aimee lalu tersenyum.

“Lain kali hati-hati, ya.” ucap Chi ceria, lalu meninggalkan Aimee yang mematung karena shock.

***

Suara Aimee yang sedang bermain di halaman belakang terdengar sampai ke ruang tamu, tempat orang tua Aimee dan gurunya Margot berdiskusi. Membuat Margot melirik sekilas ke halaman belakang.

“Jadi, masalah apa yang ingin ibu bicarakan?” Bu Margot terbatuk karena gugup.

“Aimee.. ” Orang tua Aimee, Hans dan Giselle menatap Margot lekat.

“Dia, tak punya teman dan suka berbicara sendiri.” Seolah sudah tahu, raut wajah Giselle berubah tenang.

“Iya… kami tahu. Kami sudah berkonsultasi dengan psikiater mengenai hal itu.” Margot mengerutkan keningnya, bingung.

“Psikiater?”

“Saat ia kecil, ia pernah ditinggal seorang sahabatnya. Ia menangis tanpa henti sepanjang hari. Tapi sore harinya ia berhenti menangis dan keesokan harinya kami menemukannya berbicara sendiri dengan seseorang bernama Chi.” Cerita Giselle.

“Aimee bilang  Chi adalah seorang malaikat, tapi kami tak bisa melihatnya. Kami khawatir sesuatu yang buruk terjadi. Jadi, kami bertanya pada seorang psikiater, gejala Skizofrenia katanya. Tapi ia mengatakan tak ada yang perlu di khawatirkan, teman khayalannya akan menghilang dengan sendirinya karena ia masih kecil.” Sambung Hans.

“Tapi, karena teman khayalannya ini, ia jadi dikucilkan.” Margot sedikit meninggikan nadanya. Giselle menganggukkan kepalanya.

“Kami akan coba membujuknya.”

***

Aimee baru saja selesai dari kamar kecil dan berjalan menuju kelas. Ketika ia melangkahkan kakinya ke dalam kelas, semua orang mendadak terdiam. Aimee merasa ada sesuatu yang aneh. Begitu ia sampai di tempat duduknya, ia mendapati sebuah pisau yang berlumuran cat merah. Ia menyentuh pisau itu dan mengambil kertas yang berada di dekatnya.

Menakutkan~ aku takut tertular, lebih baik kau mati saja!, tulis pesan itu. Aimee langsung mengedarkan kepalanya. Tapi semua orang langsung menundukkan kepalanya. Seolah tak tahu perbuatan siapa itu. Hatinya sakit, tapi ia bertindak seolah tak peduli dan membuang pisau serta kertas tersebut ke tempat sampah.

“Apa yang terjadi?” Terdengar suara berat Chi dari belakang Aimee.

“Tidak terjadi apa-apa.” jawab Aimee tersenyum terpaksa sambil menatap. Chi tak yakin.

“Serius?” Aimee menganggukkan kepalanya dengan keras lalu duduk di kursinya.

***

“Sekarang, ayo  membuat tiap kelompok beranggotakan 4 orang untuk mengerjakan maket.” Aimee mengedarkan kepalanya. Semua orang sudah mendapat kelompok. Sebenarnya ada  kelompok yang hanya dua orang, tapi bukannnya memanggil Chi dan Aimee, mereka malah berbisik-bisik dan menjauhi Aimee. Begitu juga yang lainnya. Tinggal dia dan Chi.

“Aimee?? Apa kau sudah mendapat kelompok?” tanya gurunya. Aimee menoleh ke arah Chi.

“Sudah, tapi hanya berdua dengan Chi.” ucapnya. Gurunya mendadak gelagapan.

“O- oh. Dengan Chi? Baiklah. Nah, se- sekarang pembagian tugas maket.”

“Kenapa semua orang bertindak aneh??” tanya Chi. Aimee hanya mengangkat bahunya.

“Tak tahu, abaikan sajalah Chi..”

***

Aimee mengejar Chi yang berjalan cepat meninggalkannya. Aimee menahan tangan Chi. Akhir-akhir ini Chi sering menolak menemani Aimee, terutama untuk pergi ke sekolah. Ia juga sering kali mengabaikan Aimee.

“Temani aku.. ke toko buku..”

“Kau pergi saja sendiri.” Aimee dengan cepat memeluk tangan Chi.

“Kumohon..”

Akhirnya, Chi menemani Aimee pergi ke toko buku.

“Buku ini, bagaimana menurutmu??” tanya Aimee dambil menunjukkan buku yang akan ia beli tepat di depan wajah Chi. Chi mengambil buku itu dan membaca sinopsisnya.

“Bagus.” ucap Chi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu memberikan buku itu kembali pada Aimee. Chi tanpa sengaja melihat beberapa pengunjung menatap Aimee dengan pandangan aneh sambil berbisik-bisik dengan temannya. Sekali lagi ia melihat pemandangan yang tidak enak. Tak lama kemudian, datang dua orang perempuan yang merupakan teman sekelas Aimee, mendekati Aimee. Satu berambut panjang dengan poni oval dan satunya

“Aku tak apa kalau kau berbicara sendiri di kelas. Kami masih memakluminya. Tapi kalau melakukannya di luar kelas, tidakkah kau malu?” Ucap perempuan yang berambut panjang.

“Aku tidak berbicara sendiri, aku berbicara dengan Chi..”

“Dengar Aimee, kami peduli padamu. Makanya, kami mengingatkanmu. Karena aku sejak pertama kali aku melihatmu, kau selalu berbicara sendiri. Kami pikir itu terjadi hanya pada saat-saat tertentu saja, ternyata kau juga melakukannya di tempat umum.” Chi datang mendekati Aimee.

“Aku bersama Chi kok..” Aimee menggenggam tangan Chi dan megangkatnya tinggi. Kedua gadis itu hanya saling berbisik pelan

“Terserah kau saja!” ucap gadis berambut pendek lalu pergi menjauh. Chi menghempaskan genggaman tangan Aimee. Aimee menatap Chi bingung. Mata merah Chi menatap Aimee.

“Mereka tidak melihatku.”

“Kalau mereka tidak melihatmu, lalu kenapa?” tanya Aimee. Chi meninggalkan toko buku. Aimee mengejar Chi yang sudah keluar toko buku lalu menahan tangannya. Chi berbalik, menatap Aimee dengan tajam. Saking panjangnya, mampu menusuk hati Aimee.

“Jangan memanggilku kalau tidak ada yang penting.” Chi meninggalkan Aimee yang berdiri mematung. Air mata Aimee tertahan di pelupuk mata. Ia teringat saat Dennis meninggalkannya.

“Chii..” panggil Aimee sambil terisak. Aimee menghapus air matanya yang turun semakin banyak. “.. jangan pergi..” ucap Aimee pelan, tapi masih bisa terdengar oleh telinga Chi. Tak tega mendengar tangisan Aimee, ia berbalik lalu menyeret Aimee pergi.

“Lain kali aku tidak akan berbalik.” ucap Chi. Tapi Aimee tidak peduli. Asalkan Chi kembali padanya, ia tak memerlukan apapun lagi.

***

Bunyi alarm mengganggu indra pendengaran Aimee. Dengan pandangan setengah terbuka, ia mencari alarm yang berada di meja kecil sebelah kanan. Begitu Aimee menemukannya, ia mematikan alarm itu tanpa melihatnya. Hari ini libur, pikirnya. Selang beberapa menit, terdengar dering handphonenya. Ia mengangkat telepon tersebut.

“Halo?”

“Halo, Mi. Ini Rex. Kau tak lupa dengan jadwal kita kan?” Rex? Oh! Rex!, jerit Aimee dalam hati. Janji? Aku mengerutkan keningku.

“Lupa, ya?” Seketika, matanya melebar.

“Rex sudah disini??” Teriak Aimee.

“Iya, aku sudah menunggu setengah jam di depan pintu rumahmu.” Aimee segera menyingkap selimutnya dan bergegas menuju pintu rumah. Aimee membuka pintu rumahnya.

“Maaf. Aku belum siap-siap.” ucap Aimee begitu ia membuka pintu, dengan cengiran kuda bertengger di wajahnya.

***

Aku menatap keluar jendela. Mengagumi pemandangan pepohonan, tanda kami akan segera sampai di tujuan.

“Bagaimana bisa kau lupa pada janji pacarmu sendiri?? tanya Rex.

“Maaf.. Aku sudah bersiap tadi malam. Tapi karena harus mengerjakan tugas kantor, aku tidur terlalu malam, jadi terlambat bangun.” Aku menggaruk tengkukku canggung.

“Memangnya kau tidur jam berapa?”

“Jam 12. Hehe..” Aku terkekeh.

“Pantas..” Rex menghentikan mobilnya di sebuah pondok kecil di dalam hutan.

“Sudah sampai..” ucap Rex. Aku dan Rex turun dari mobil.

“Kita makan disini ya..”

***

Setelah Aimee selesai makan, ia dan Rex mengobrol dengan pemilik pondok tersebut. Tapi terdengar suara gesekan ranting di semak-semak. Aimee menoleh ke sumber suara. Ia melihat sesuatu berwarna putih. Aimee tak percaya dengan apa yang ia lihat, jadi ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Sesuatu berwarna putih itu hilang. Aimee menggeleng-gelengkan kepalanya lalu kembali mendengarkan percakapan Rex. Selang beberapa detik, terdengar lagi gemerisik dari semak-semak. Ia kembali menoleh tapi tak menemukan apapun.

Karena penasaran, ia mengikuti arah suara. Begitu ia melewati semak, ia melihat suatu kilasan. Aimee mengikuti arah kilasan itu pergi. Kilasan itu kini terlihat seperti siluet seseorang. Aimee mempercepat langkahnya. Tiba-tiba siluet itu menghilang. Langkah Aimee terhenti. Mengedarkan pandangannya, mencari siluet tersebut. Namun siluet itu tak terlihat. Aimee kembali pada kenyataan. Ia menjadi panik. Ia tidak tahu dimana dia berada. Tiba-tiba terdengar suara semak dari punggungnya.

“Si- siapa kau!” ucap Aimee.

Keluarlah seseorang yang Aimee kenal. Christopher. Melihat sosok yang sudah ia cari selama bertahun-tahun berada di depannya lagi, membuat air mata Aimee berada di pelupuk matanya. Chi yang kini memiliki tubuh ramping dengan tinggi kira-kira 180 cm dan menggunakan kemeja berwarna biru gelap yang dimasukkan ke dalam celana panjangnya. Wajah tampannya masih dengan hidung mancung dan mata merah gelapnya yang kini lebih tajam.

“Chi..” Air mata Aimee menetes.

“Kita bertemu lagi.” Chris memberi Aimee senyum menawan.

“Kau! Kenapa tiba-tiba meninggalkanku??” Aimee berjalan mendekati Chi.

“Kau tega melakukannya padaku??“ tanya Aimee sambil terisak.

“Jahat!!” Aimee memukul pelan dada chi. Chi tertawa pelan.

“Maaf. Tapi aku harus.” Chi mengacak rambut Aimee.

“Bukankah kini kau sudah punya pacar dan banyak teman?” Aimee menggeleng.

“Aku hanya ingin Chi. Aku memang mencintai Rex tapi hal paling berharga di dalam hidupku adalah Chi.” Chi tersenyum menatap Aimee.

“Kau boleh bersamaku..”

***

Rex yang sedang bercakap-cakap dengan pemilik pondok, menghentikan percakapannya begitu mendengar teriakan Aimee. Rex dan pemilik pondok saling berpandangan. Mereka segera bergegas masuk ke dalam hutan mencari keberadaan Aimee. Setelah berkeliling kurang lebih 30 menit di dalam hutan, ia menemukan tubuh Aimee tergeletak di tanah. Rex segera membawa Aimee ke rumah sakit.

***

Setelah diberi alat pemacu jantung, Aimee sudah berada di ruangan biasa namun dengan alat-alat medis di sekelilingnya. Namun sudah lebih dari 3 hari ia tak sadarkan diri di kasur. Sedangkan Rex dengan setia membawa bunga dan mengganti bunganya setiap hari. Rex menggenggam tangan Aimee erat. Berdoa dalam hati agar Aimee membuka matanya.

“Kumohon.. bangunlah, masih banyak hal yang ingin aku lakukan bersamamu.” Selang beberapa menit, bunyi alat pendeteksi detak jantung terdengar. Grafiknya pun tak beraturan. Rex yang panik, langsung menekan bel pemanggil suster dengna tidak sabaran. Tapi sekilas, ia melihat Aimee tersenyum lemah. Rex segera berlutut di samping Aimee, tak percaya degan apa yang baru saja ia lihat. Rex mengulurkan tangannya untuk mengelus wajah Aimee. Ketika tangan Rex mengelus wajah Aimee, terdengar suara nyaring dari alat pendeteksi detak jantung dan grafiknya berubah menjadi garis. Rex refleks menggoyang-goyangkan tubuh Aimee, berharap Aimee tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Tapi nihil, tak ada respon apapun dari Aimee. Aimee sudah meninggalkannya. Seketika tangis Rex pecah.

***

“Kau boleh bersamaku..” Aimee memiringkan sedikit kepalanya.

“.. kalau..”

“Kalau?” tanya Aimee tak sabaran.

“Kalau kau mau meninggalkan dunia ini.” Aimee tertegun. Meninggalkan dunia ini? Berarti ia harus meninggalkan Rex? Aimee kembali menatap Chi. Baginya, Chi lebih penting dari apapun di dunia ini. Aimee menarik nafasnya dengan kuat.

“Aku.. “ Chi mengangkat sebelah alisnya.

“.. akan meninggalkan dunia ini.”

-SELESAI-

A/N: Ini tugas cerpen jadi mohon bantuannya… total kata: 2.226

2 thoughts on “Hati yang tertinggal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s